• Sejarah

    Sejarah RSUP Dr Mohammad Hoesin Palembang dari awal mula hingga saat ini

  • Produk layanan RSMH

    Layanan yang dimilki RSUP Dr Mohammad Hoesin Palembang. Klik ini untuk melihat jenis pelayanan

  • Staff RSMH

    Informasi terkait staff yang bertugas di RSUP Dr Mohammad Hoesin Palembang

  • Denah rumah sakit

    Denah lokasi RSUP Dr Mohammad Hoesin Palembang. Klik ini untuk melihat denah

  • Berita

    Simak berita terbaru untuk mendapatkan informasi terkait tentang RSUP Dr Mohammad Hoesin Palembang

Mengenali Gejala ISPA dan Tindakan yang Perlu Dilakukan

Menurut survei Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) tahun 2019, penyakit pernapasan masuk dalam 10 penyakit terbanyak yang terjadi di Indonesia. Bahkan, penurunan kualitas udara dinyatakan sebagai faktor risiko kematian kelima tertinggi di Indonesia, setelah hipertensi, gula darah tinggi, merokok, dan obesitas.

Salah satu penyakit pernapasan yang umum terjadi di Indonesia adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Istilah medis ini digunakan untuk menggambarkan berbagai jenis infeksi yang mempengaruhi saluran pernapasan bagian atas dan bawah, termasuk hidung, tenggorokan, sinus, bronkus, dan paru-paru. Infeksi saluran pernapasan akut bisa disebabkan oleh berbagai agen penyebab, seperti virus, bakteri, atau bahkan jamur. 

Dampak buruk dari penurunan kualitas udara ini sangat jelas. Terutama yang tinggal di perkotaan, berisiko lebih tinggi terkena ISPA karena paparan polusi udara. Partikel-partikel berbahaya seperti debu halus, asap kendaraan bermotor, dan polusi industri dapat merusak saluran pernapasan dan memicu infeksi. 

Kenali Gejala ISPA

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengenali gejala, mengambil tindakan pencegahan, seperti menggunakan masker saat polusi tinggi, menjaga kebersihan tangan, dan menjauhi orang yang sakit, untuk melindungi diri mereka sendiri dan mengurangi risiko ISPA. Berikut beberapa gejala-gejala ISPA yang perlu kita ketahui:

1. Batuk

Batuk adalah gejala utama ISPA. Ini bisa menjadi batuk kering atau batuk berdahak. Batuk dapat menjadi gejala yang cukup mengganggu dan menguras energi.

2. Hidung Tersumbat

Hidung tersumbat adalah ketika saluran hidung Anda menjadi penuh dengan lendir atau pembengkakan, membuat Anda sulit bernapas melalui hidung.

3. Sakit Tenggorokan

Rasa sakit atau terbakar di tenggorokan adalah gejala umum ISPA. Ini seringkali membuat menelan makanan atau minuman menjadi sulit.

4. Demam

Demam adalah respon alami tubuh terhadap infeksi. Jika suhu tubuh Anda naik di atas normal, ini bisa menjadi tanda bahwa Anda memiliki ISPA.

5. Sesak Nafas atau Sulit Bernapas

Sesak nafas atau kesulitan bernapas adalah gejala serius yang harus segera diatasi. Ini bisa menjadi tanda bahwa infeksi telah mencapai paru-paru Anda.

6. Sakit Kepala

Sakit kepala dapat menyertai ISPA dan membuat Anda merasa tidak nyaman. Ini bisa disebabkan oleh demam atau ketegangan otot.

7. Nyeri Otot dan Sendi

Nyeri otot dan sendi adalah gejala umum ISPA. Ini bisa membuat tubuh terasa tidak nyaman.

8. Lemas atau Lelah

ISPA seringkali membuat Anda merasa lemas atau lelah. Tubuh Anda berjuang melawan infeksi, sehingga energi Anda berkurang.

9. Suara Serak atau Hilangnya Suara

Jika Anda mengalami perubahan suara yang signifikan, seperti suara serak atau suara yang hilang sama sekali, ini bisa menjadi tanda bahwa ISPA mempengaruhi saluran pernapasan atas Anda.

10. Pilek atau Nyeri Sinus

Pilek atau hidung berair adalah gejala umum ISPA, terutama jika infeksi menyerang sinus.

11. Mual, Muntah, atau Diare

Beberapa orang dengan ISPA mungkin mengalami masalah pencernaan seperti mual, muntah, atau diare. Ini bisa disebabkan oleh peradangan tubuh.

12. Nafsu Makan Menurun

Infeksi seringkali mengurangi nafsu makan Anda. Ini normal karena tubuh Anda berfokus pada melawan infeksi.

Jika Anda mengalami satu atau lebih gejala di atas, sangat penting untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan terdekat. Mereka akan dapat memberikan evaluasi medis lebih lanjut dan memberikan perawatan yang sesuai.

Dengan mengenali gejala ISPA dengan cepat, Anda dapat mengambil tindakan yang diperlukan untuk mencegah penyebaran infeksi dan mempercepat proses pemulihan. Selalu utamakan kesehatan Anda dan jangan ragu untuk mencari bantuan medis jika diperlukan. Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda dan membantu Anda lebih memahami gejala ISPA.


Source: https://ayosehat.kemkes.go.id/mengenali-gejala-ispa-dan-tindakan-yang-perlu-dilakukan

Share:

HIV dan AIDS - Faktor Risiko, Gejala, dan Penanganannya

Human Immunodeficiency Virus atau HIV adalah suatu virus patogen yang dapat menyebabkan melemahnya sistem kekebalan tubuh seseorang. Lantaran, HIV ini menginfeksi serta merusak sel CD4 yang berperan penting dalam sistem imunitas tubuh. 

 

Apabila tidak mendapatkan penanganan lebih lanjut, HIV dapat mencapai stadium akhir dan mengakibatkan kondisi yang disebut AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome. AIDS adalah kumpulan dari beberapa gangguan kesehatan yang disebabkan oleh sangat lemahnya sistem kekebalan tubuh.

 

Dalam rangka menyambut Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember, artikel kali ini akan mengupas tuntas seputar infeksi HIV/AIDS. Dengan begitu, Anda dapat lebih waspada terhadap kondisi tersebut. Ulasan mengenai HIV/AIDS tersebut dapat Anda simak di bawah ini.

 

Apa itu HIV dan AIDS?

 

Human Immunodeficiency Virus atau biasa disingkat dengan HIV adalah salah satu jenis virus yang dapat menyebabkan penyakit serius bagi penderitanya. Lantaran, HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia.

 

Lebih tepatnya, Human Immunodeficiency Virus (HIV) ini menyerang salah satu sel di dalam sel darah putih, yaitu sel T atau CD4. Di mana, sel tersebut memiliki peran penting untuk menjaga imun tubuh dan memerangi infeksi yang masuk ke dalam tubuh.

 

Apabila tidak ditangani sesegera mungkin, infeksi HIV ini dapat berkembang hingga mencapai stadium akhir. Stadium akhir dari HIV adalah AIDS. AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome merupakan kondisi ketika sistem kekebalan tubuh sudah tidak mampu lagi melawan infeksi yang masuk.

 

Dengan kata lain, perbedaan HIV dan AIDS ini yaitu terletak pada konteksnya. HIV adalah virus yang menyebabkan melemahnya sistem imunitas tubuh. Sedangkan, AIDS adalah kondisi gangguan kesehatan yang diakibatkan dari melemahnya sistem imunitas tubuh tersebut.

 

Maka dari itu, penderita HIV/AIDS ini rentan untuk terkena penyakit tertentu, seperti TB atau tuberkulosisinfeksi saluran pernapasan akut atau ISPA, beberapa jenis kanker, dan lain sebagainya.

 

Penyebab Penularan HIV dan AIDS

 

HIV adalah virus yang dapat menyebabkan AIDS. Di samping itu, ada beberapa faktor risiko yang dapat memicu penularan HIV. Berikut di antaranya:

 

  • Bergonta-ganti pasangan dalam melakukan hubungan seksual serta tidak menggunakan alat kontrasepsi.
  • Menggunakan jarum suntik yang telah dipakai oleh orang lain.
  • Menggunakan alat makan bersama-sama dengan penderita HIV.
  • Transfusi darah yang alatnya tidak steril.
  • Mengidap penyakit STD atau penyakit menular seksual lainnya.

 

Tidak bisa dipungkiri saat ini masih banyak orang yang salah kaprah dalam memahami penularan HIV. 

 

Penularan HIV sejatinya hanya bisa terjadi karena adanya kontak dengan cairan tubuh penderita. Kontak cairan tersebut adalah darah, sperma, cairan vagina, cairan anus, serta ASI. HIV tidak dapat ditularkan melalui udara, air, keringat, air mata, air liur, gigitan nyamuk, ataupun sentuhan fisik.

 

Gejala HIV dan AIDS

 

Penyakit HIV/AIDS biasanya menimbulkan gejala yang terbagi menjadi beberapa tahap. Adapun tahapan dari gejala HIV adalah sebagai berikut:

 

1. Tahap 1

 

Tahap pertama terjadi ketika virus HIV baru menjangkiti tubuh penderitanya. Umumnya, pada tahap pertama ini gejala HIV belum muncul di tahun-tahun awal. Adapun gejala HIV pada tahap pertama yaitu:

 

  • Mudah terserang penyakit flu
  • Demam
  • Sakit tenggorokan
  • Timbul ruam
  • Nyeri otot

 

2. Tahap 2

 

Memasuki tahap 2, gejala HIV yang timbul masih serupa dengan tahap pertama. Tahap kedua ini biasanya akan berlangsung kurang lebih selama 10 tahun. Apabila tidak menjalani pengobatan, pada tahap kedua ini virus akan mulai menyebar dan semakin merusak sistem kekebalan tubuh. Penderita HIV di tahap kedua juga sudah bisa menularkan virus ini kepada orang lain.

 

3. Tahap 3

 

Di tahap ketiga, infeksi HIV sudah semakin parah dan memasuki kondisi AIDS. Maka dari itu, beberapa gejala yang timbul di antaranya:

 

  • Demam yang berkepanjangan, bahkan bisa sampai lebih dari 10 hari.
  • Tubuh selalu merasa lemas dan tidak berdaya.
  • Kesulitan untuk bernapas.
  • Mengalami gangguan diare kronis dan terjadi dalam kurun waktu lama.
  • Mudah terserang infeksi jamur pada mulut, tenggorokan, dan alat kelamin.
  • Berat badan turun drastis karena kehilangan nafsu makan.

 

Pengobatan HIV dan AIDS

 

Sebelum mendapatkan pengobatan, dokter biasanya akan melakukan diagnosis terlebih dahulu untuk memastikan HIV yang dialami oleh pasien. Beberapa pemeriksaan yang akan dilakukan oleh dokter untuk mendiagnosis HIV adalah tes antibodi, tes antigen, pemeriksaan sel CD4, serta pemeriksaan HIV RNA.

 

Apabila pasien sudah dipastikan menderita penyakit HIV/AIDS, dokter kemudian akan memberikan penanganan medis. Memang, penyakit HIV adalah kondisi yang belum ditemukan obat untuk menyembuhkannya. Akan tetapi, dokter akan memberikan antiretroviral (ARV) sebagai langkah pengobatan HIV dan AIDS.

 

Ya, obat ARV tersebut bertujuan untuk memperlambat perkembangan virus HIV. Cara kerja dari obat ARV ini adalah dengan mengurangi viral load virus HIV. Dengan begitu, virus HIV tidak berkembang biak di dalam tubuh.

 

Melalui pengobatan ARV ini Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) dapat menjalani hidup layaknya orang-orang sehat. Selama rutin mengonsumsi ARV, virus ini dapat ditekan sehingga tidak dapat ditularkan melalui hubungan seksual dan lainnya. Dengan pengobatan rutin ini pun, wanita dengan HIV dapat merencanakan kehamilan dan melahirkan tanpa menularkannya ke calon bayi. Tentunya hal ini juga perlu didampingi dengan pemeriksaan rutin dari dokter.

 

Demikian ulasan seputar HIV dan AIDS yang perlu Anda ketahui. Kesimpulannya, HIV adalah virus yang dapat menular melalui cairan tubuh penderitanya. Maka dari itu, penting untuk rutin melakukan pemeriksaan HIV, terutama bagi Anda yang sudah aktif secara seksual. Dengan begitu, penanganan infeksi HIV dapat dilakukan sedini mungkin dan komplikasi penyakit serius lainnya bisa dicegah.


Source: https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-hiv dengan pengubahan seperlunya

Share:

Penyakit Leukemia: Gejala, Mencegah dan Mengobati

Penyakit leukemia adalah salah satu jenis kanker yang sangat umum dan masuk 10 besar daftar kanker yang paling umum di seluruh dunia. Banyak anak-anak berusia di bawah 15 tahun yang mengalami jenis kanker mematikan ini. Pengetahuan tentang gejala, penyebab, serta cara mencegah dan mengobati leukemia dapat membantu memperpanjang usia harapan hidup.

Mengenal Penyakit Leukemia

Penyakit leukemia adalah kelainan yang terjadi pada sel darah. Sel darah yang sehat terbentuk di sumsum tulang dan matang hingga menjadi sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Setiap sel darah itu memiliki fungsi sendiri-sendiri. Sel darah merah membawa oksigen dan nutrisi ke seluruh jaringan tubuh, sel darah putih melawan infeksi, dan trombosit menghentikan perdarahan.

Pada orang yang mengidap leukemia, sel ini tidak matang seperti seharusnya atau bertransformasi menjadi sel darah yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Seiring dengan penumpukan sel abnormal di sumsum tulang dan aliran darah, orang itu bisa mengalami anemia, rentan terhadap infeksi, dan perdarahan terus-menerus karena sel darah merah, sel darah putih, dan/atau trombosit tak dapat menjalankan fungsinya yang normal.

Secara umum, penyakit leukemia dibedakan menurut tipe sel yang terpengaruh (mieloid atau limfoid) dan seberapa cepat perkembangannya (akut atau kronis). Leukemia sering disebut pula sebagai kanker darah. Sebagian besar kasus leukemia terjadi karena produksi sel darah putih abnormal secara berlebihan. Akibatnya, penderitanya lebih mudah mengalami perburukan kondisi ketika sakit.

Gejala

Gejala penyakit leukemia yang umum termasuk:

  • Penurunan berat badan secara tiba-tiba
  • Kehilangan selera makan
  • Kelelahan
  • Anemia
  • Sering terkena infeksi
  • Infeksi sering bertahan lama
  • Mudah memar
  • Perdarahan sulit berhenti
  • Pembesaran limpa atau kelenjar getah bening
  • Petechiae (bintik-bintik bundar dan rata berwarna merah/ungu gelap seperti ruam di bawah kulit)
  • Sesak napas
  • Demam, menggigil dan gejala lain yang seperti flu
  • Berkeringat dingin di malam hari
  • Nyeri tulang
  • Merasa tidak enak badan

 

Penyebab

Seperti dijelaskan sebelumnya, penyakit leukemia terjadi karena produksi sel darah merah, sel darah putih, atau trombosit yang tak normal dalam jumlah banyak. Sel darah putih yang terlalu banyak diproduksi justru akan membahayakan diri sendiri, terlebih sel yang abnormal.

Sebab, sel darah ini berfungsi melawan infeksi dan penyakit. Produksi sel darah putih yang abnormal secara berlebih tak dapat menjalankan fungsinya itu. Seiring dengan waktu, sel abnormal ini makin banyak di dalam darah.

Akibatnya, jumlah sel darah merah yang penting sebagai distribusi oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh menjadi lebih sedikit. Begitu pula trombosit yang esensial untuk menghentikan perdarahan. Belum dapat diketahui secara pasti apa yang menyebabkan produksi sel darah yang abnormal tersebut.

 

Cara Dokter Mendiagnosis Penyakit Leukemia

Ketika ada gejala penyakit leukemia, dokter bisa melakukan sejumlah cara untuk membuat diagnosis terhadap pasien, antara lain:

  • Pemeriksaan fisik: ini langkah pertama yang akan diambil dokter untuk memeriksa tanda dan gejala leukemia, seperti pembengkakan kelenjar getah bening, demam, atau pembesaran limpa.
  • Tes darah: langkah selanjutnya adalah tes darah untuk mengetahui apakah ada volume sel darah merah, sel darah putih, atau trombosit yang tak normal.
  • Tes Aspirasi dan biopsi sumsum tulang: jika hasil tes darah menunjukkan tanda leukemia, dokter mungkin akan meminta pasien menjalani prosedur pengambilan sampel sumsum tulang untuk diperiksa di laboratorium guna menentukan jenis leukemia yang dialami dan tindakan perawatan yang sesuai.

Cara Mengatasi Penyakit Leukemia

Perawatan penyakit leukemia bergantung pada sejumlah faktor pada pasien, seperti usia, kondisi kesehatan, riwayat medis, jenis leukemia, dan tahap leukemia yang dialami. Berikut ini beberapa metode yang lazim untuk menangani leukemia:

  • Kemoterapi: penggunaan obat-obatan baik satu jenis maupun kombinasi untuk membunuh sel kanker. Obat bisa dalam bentuk pil ataupun disuntikkan lewat pembuluh darah. Ini metode perawatan pasien leukemia yang paling umum.
  • Terapi biologis: penggunaan zat yang diproduksi secara alami oleh tubuh atau dibuat secara sintetis di laboratorium untuk mengidentifikasi dan menyerang sel kanker, misalnya antibodi dan sitokin.
  • Terapi targeted Therapy: penggunaan obat-obatan yang ditargetkan untuk mengganggu fungsi sel kanker sehingga sel itu tak dapat berkembang dan mengakibatkan kerusakan lebih besar.
  • Terapi radiasi: penggunaan sinar dengan energi tinggi terhadap bagian tubuh yang diserang sel kanker. Metode ini biasanya digunakan jika sel kanker sudah menyebar.
  • Transplantasi sel punca: pemasangan sel punca dari donor ke sumsum tulang agar dapat memproduksi sel darah yang normal.
  • Perawatan pendukung: pengobatan terhadap gejala yang muncul akibat penyakit leukemia, seperti obat mual, transfusi darah, obat antibiotik atau antiviral dan injeksi umunoglobulin untuk membantu melawan infeksi.

Komplikasi

Sebagian besar kasus komplikasi yang terkait dengan penyakit leukemia muncul karena penyusutan volume sel darah yang normal. Di antaranya:

  • Mudah mengalami infeksi yang parah
  • Infeksi kecil bisa cepat berkembang dan mengancam jiwa
  • Perdarahan serius termasuk di dalam otak, paru-paru, dan usus

Komplikasi juga bisa muncul akibat efek samping terapi pengobatan, seperti kemandulan dan munculnya kanker lain dalam tubuh.

 

Pencegahan

Tidak ada cara yang terbukti dapat mencegah penyakit leukemia. Namun para pakar menyarankan masyarakat untuk menghindari produk tembakau dan paparan zat kimia dari industri seperti pestisida yang diduga bisa meningkatkan risiko orang terkena leukemia.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Penyakit leukemia memerlukan perawatan medis oleh tenaga profesional. Maka sangat penting bagi siapa pun yang mengalami gejala penyakit ini untuk langsung mendatangi dokter guna menjalani pemeriksaan dan mendapatkan diagnosis. Gejala leukemia tidak spesifik sehingga ada kemungkinan gejala yang dialami merupakan indikasi masalah kesehatan lain yang juga serius. Deteksi dini akan sangat membantu pasien dalam menjalani pengobatan dan menjaga kualitas hidup.


Source: https://primayahospital.com/penyakit-dalam/penyakit-leukemia/

Share:

Apa itu Tifus? Ini Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobatinya

Tahukah Anda apa itu tifus atau demam tifoid? Ya, tifus adalah penyakit yang umumnya ditandai dengan demam, sakit perut, mual, pusing, nyeri otot, sering buang air besar atau diare dan lain sebagainya. Tifus disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi dan biasanya ditemukan pada makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri tersebut.

 

Tifus sering kali dialami oleh anak-anak karena daya tahan tubuhnya belum optimal dibandingkan pada orang dewasa. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan tifus dapat terjadi pada orang dewasa.

 

Untuk mengetahui penyebab, gejala, hingga cara mengobati tifus, Anda dapat menyimak artikel berikut ini sampai habis.

 

Apa itu Tifus?

 

Sebenarnya, apa itu tifus? Tifus atau typhoid adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi pada tubuh penderitanya. Infeksi bakteri tersebut dapat menimbulkan berbagai macam keluhan, mulai dari demam, sakit perut, pusing, diare, nyeri otot, dan lain sebagainya.

 

Tifus adalah masalah kesehatan yang perlu ditangani sebaik mungkin. Pasalnya, penyakit tifus yang tidak ditangani dengan tepat akan berbahaya karena bisa mengakibatkan terjadinya komplikasi serius, seperti peradangan saluran pencernaan, pneumonia atau paru-paru basah, penurunan kesadaran, dan lain sebagainya.

 

Di samping itu, banyak orang awam menganggap bahwa tipes dan tifus adalah gangguan kesehatan yang sama. Memang, gejala tipes (typhus) dan tifus (typhoid) ada sedikit kemiripan. Namun, dua jenis penyakit tersebut disebabkan oleh hal yang berbeda.

 

Tifus adalah penyakit yang diakibatkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi dan ditularkan melalui makanan serta minuman. Sedangkan, tipes merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Rickettsia dan Orientia, penyebarannya pun melalui gigitan tungau atau kutu.

 

Penyebab Tifus

 

Seperti yang sudah sempat disinggung sebelumnya, penyebab sakit tifus adalah infeksi bakteri Salmonella typhi. Bakteri tersebut dapat ditemukan pada makanan dan minuman.

 

Selain itu, ada beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko terjadinya tifus pada seseorang, di antaranya:

  • Anak-anak berusia di bawah 10 tahun.
  • Memiliki daya tahan tubuh yang lemah.
  • Hidup di lingkungan yang tidak terjaga kebersihannya.
  • Tidak mencuci tangan sebelum makan.
  • Menggunakan toilet umum yang sudah terkontaminasi oleh bakteri.
  • Memasak makanan tanpa mencuci bahan-bahan yang digunakan dengan baik.
  • Menggunakan alat makan bersama-sama dengan penderita tifus.
  • Bepergian ke negara dengan akses air bersihnya yang terbatas.

Gejala Tifus

 

Lama waktu inkubasi bakteri Salmonella typhi yang menjadi penyebab tifus ini yaitu sekitar 3 sampai 60 hari. Setelah itu, gejala tifus baru akan timbul dan dapat dirasakan oleh penderitanya.

 

Di samping itu, beberapa orang awam terkadang sulit untuk membedakan penyakit tifus dengan DBD karena memiliki gejala yang serupa. Maka dari itu, Anda perlu mengenal gejala tifus lebih lanjut agar dapat membedakannya dengan penyakit DBD. Adapun beberapa gejala tifus yang perlu diketahui di antaranya:


  • Demam dalam kurun waktu lama. Selain itu, suhu tubuh saat demam akan meningkat secara bertahap dan perlahan.
  • Mengalami gangguan pencernaan, bisa sembelit atau susah BAB, diare, atau sakit perut.
  • Nyeri sendi dan otot.
  • Hilangnya nafsu makan.
  • Mual dan muntah.
  • Pusing atau sakit kepala.
  • Tubuh terasa sangat lemas.

Cara Mengobati Tifus

 

Apabila terindikasi terjangkit penyakit tifus, dokter akan melakukan pemeriksaan medis terlebih dahulu sebelum mengambil langkah pengobatan. Beberapa pemeriksaan medis yang dilakukan oleh dokter sebagai langkah diagnosis tifus adalah sebagai berikut:

 

  • Wawancara medis: dokter akan menanyakan berbagai macam hal yang dirasakan oleh pasien.
  • Pemeriksaan fisik: dokter memeriksa fisik pasien, mulai dari suhu tubuh, ruam pada kulit, pembesaran pada perut, dan lain sebagainya.
  • Uji laboratorium: dokter akan mengambil sampel darah serta tinja pasien lalu menganalisisnya pada laboratorium untuk memeriksa keberadaan bakteri Salmonella typhi pada tubuh pasien.

 

Setelah pasien sudah dipastikan mengalami tifus, dokter kemudian akan meresepkan obat antibiotik sebagai langkah pengobatannya. Pengobatan tifus ini dapat dilakukan dengan cara rawat jalan atau rawat inap tergantung dari tingkat keparahannya.

 

Selain itu, dokter akan menyarankan pasien untuk menjaga kebersihan dan merekomendasikan menu makanan yang baik untuk penderita tifus. Dokter juga akan menjelaskan beberapa pantangan sakit tifus, seperti hindari mengonsumsi makanan mentah, melakukan aktivitas berat, dan minum air secara sembarangan.

 

Segera Konsultasi Tifus dengan Dokter Terbaik!

 

Demikian ulasan lengkap mengenai tifus yang dapat disampaikan. Jadi, tifus adalah penyakit yang disebabkan oleh kontaminasi bakteri pada makanan dan minuman.

 

Maka dari itu, penting untuk menjaga kebersihan makanan dan minuman yang dikonsumsi agar terhindar dari penyakit tifus. Anda juga dapat melakukan Vaksinasi Tifoid untuk mencegah terjadinya infeksi bakteri penyebab tifus.


Source: https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-tifus dengan pengubahan seperlunya

Share:

Penyakit Liver - Gejala, penyebab dan mengobati

Penyakit liver adalah istilah yang digunakan untuk setiap gangguan pada liver atau hati sehingga menyebabkan organ ini tidak dapat berfungsi dengan baik. Penyakit liver dapat disebabkan oleh banyak faktor, seperti infeksi virus, kecanduan alkohol, serta penumpukan lemak di hati.

Hati atau liver memiliki beragam fungsi penting, antara lain membersihkan darah dari senyawa berbahaya. Selain itu, hati juga memproduksi protein yang berperan penting dalam proses pembekuan darah.

Hati dapat memperbaiki sel-selnya yang rusak. Namun, pada penderita penyakit liver, sel-sel hati yang rusak cukup banyak sehingga fungsinya terganggu. Biasanya, fungsi hati akan mulai menurun ketika sel-sel hati yang rusak mencapai 75%.

Penurunan fungsi hati umumnya terjadi secara bertahap. Kerusakan yang timbul akibat penurunan fungsi hati akan mengikuti perkembangan penyakit yang mendasarinya.

Penyebab Penyakit Liver

Penyebab penyakit liver sangat beragam. Berikut ini adalah beberapa jenis penyakit liver berdasarkan penyebabnya:

1. Penyakit liver terkait alkohol

Penyakit liver dapat disebabkan oleh konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan. Kondisi ini disebut dengan penyakit hati terkait alkohol. Hal ini terjadi karena alkohol bersifat toksik untuk sel-sel hati, terutama ketika hati menyaring alkohol dari dalam darah.

2. Perlemakan hati atau non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD)

Dalam kondisi normal, sel-sel hati seharusnya hanya mengandung sedikit lemak. Penumpukan lemak di sel hati dapat menyebabkan gangguan liver.

Perlemakan hati sering kali terjadi pada orang yang mengalami obesitas.

3. Hepatitis

Hepatitis merupakan penyakit liver akibat peradangan pada jaringan hati. Kondisi ini bisa terjadi secara tiba-tiba atau dalam jangka panjang. Hepatitis terdiri dari beberapa jenis, di antaranya hepatitis A, B, C, D, E, dan hepatitis autoimun.

4. Hepatitis toksik atau toxic hepatitis

Kondisi ini disebabkan oleh paparan senyawa kimia beracun. Jenis racun yang dapat menyebabkan hepatitis toksik bisa berasal dari obat, suplemen makanan, atau zat kimia lainnya.

Mengonsumsi atau menggunakan obat-obat tertentu secara berlebihan, terlebih tanpa mengikuti anjuran dari dokter, juga bisa menyebabkan penyakit hati. Beberapa jenis obat yang bisa menyebabkan hepatitis toksik adalah paracetamol, amoxicillin, isoniazid, diclofenac, fenofibrate, amiodarone, flutamide, allopurinol, dan phenytoin.

5. Penyakit liver kolestasis atau cholestatic liver disease

Penyakit hati akibat kolestasis bisa disebabkan oleh berbagai hal, seperti gangguan pada sel hati (hepatocellular cholestasis) atau saluran empedu (cholangiocellular cholestasis). Beberapa penyebab cholangiocellular cholestasis adalah primary biliary cirrhosiscystic fibrosis, dan primary sclerosing cholangitis.

6. Penyakit liver yang diturunkan (inherited liver disease)

Penyakit liver ini disebabkan oleh kelainan genetik yang menyebabkan gangguan fungsi organ hati. Dua jenis penyebab penyakit liver genetik yang paling dikenal adalah hemokromatosis dan defisiensi alfa-1 antitripsin.

7. Kanker hati

Kanker hati merupakan jenis kanker yang berawal dari organ hati. Terdapat beberapa jenis kanker hati, yaitu hepatocellular carcinoma (HCC), hepatoblastoma, dan cholangiocarcinoma. HCC merupakan jenis kanker hati yang paling sering terjadi.

Faktor risiko penyakit liver

Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena penyakit liver, yaitu:

  • Memiliki berat badan berlebih atau obesitas
  • Mengonsumsi alkohol secara berlebihan
  • Terpapar racun atau zat kimia tertentu
  • Menyalahgunakan NAPZA, terutama yang berbagi jarum suntik
  • Terpapar darah atau cairan tubuh orang lain
  • Sering berganti pasangan dalam hubungan seksual
  • Menjalani prosedur pemasangan tato permanen atau tindik
  • Menderita diabetes atau peningkatan kadar trigliserida
  • Memiliki keluarga yang menderita penyakit liver

Gejala Penyakit Liver

Gejala penyakit liver pada tiap orang bisa berbeda-beda, tergantung pada jenis dan penyebabnya. Namun, secara umum ada beberapa gejala yang bisa muncul akibat penyakit liver, yaitu:

  • Mual dan muntah
  • Nyeri perut
  • Penurunan nafsu makan
  • Penurunan gairah seksual (libido)
  • Rasa lelah yang berlebihan
  • Perubahan warna feses menjadi pucat atau kehitaman
  • Warna urine menjadi gelap
  • Kulit dan mata menjadi kuning atau penyakit kuning
  • Kulit terasa gatal dan mudah memar
  • Pembengkakan di perut (asites)
  • Pembengkakan di kaki

Pada penyakit liver yang disebabkan oleh infeksi atau peradangan pada jaringan hati (hepatitis), penderita dapat mengalami keluhan lain, seperti demam atau nyeri perut kanan atas.

Tahap Kerusakan Hati

Selain beberapa gejala yang telah disebutkan di atas, penderita penyakit liver akan mengalami penurunan fungsi hati sejalan dengan perkembangan penyakit liver itu sendiri. Beberapa tahapannya adalah:

Tahap 1

Penyakit liver pada tahap ini ditandai dengan adanya peradangan pada sel-sel hati. Kondisi ini menyebabkan jaringan hati menjadi lunak dan membengkak. Jika tidak ditangani dengan baik, peradangan dapat menyebabkan kerusakan permanen pada jaringan hati.

Tahap 2

Pada tahap ini, liver mulai mengalami fibrosis, yaitu kondisi saat jaringan parut mulai tumbuh untuk menggantikan jaringan hati yang rusak. Pembentukan jaringan parut sebenarnya merupakan proses alami yang dilakukan tubuh untuk menyembuhkan luka. Namun, pembentukan fibrosis ini justru membuat hati tidak bisa berfungsi dengan baik.

Tahap 3

Tahap ini ditandai dengan terjadinya sirosis, yaitu kerusakan parah pada hati akibat  penumpukan jaringan parut. Sirosis disebabkan oleh penyakit hati yang berlangsung lama.

Sirosis hati merupakan tahap akhir dari penyakit liver. Pada tahap ini, hati sudah tidak bisa berfungsi dengan baik. Kondisi ini akan ditandai dengan munculnya keluhan dan gejala yang lebih serius.

Tahap 4

Pada tahap ini, kerusakan hati sudah terjadi secara menyeluruh sehingga fungsi hati hilang secara keseluruhan. Tahap ini disebut juga dengan gagal hati. Kondisi ini dapat terjadi secara akut atau kronis.

Kerusakan hati yang sudah mencapai tahap akhir tidak bisa disembuhkan. Penderita umumnya memerlukan penanganan dan perawatan khusus. Salah satu penanganan yang dianjurkan pada tahap ini adalah transplantasi hati.

Kapan harus ke dokter

Lakukan pemeriksaan ke dokter jika mengalami gejala-gejala di atas. Anda juga disarankan untuk rutin melakukan pemeriksaan ke dokter jika memiliki faktor atau kondisi yang bisa meningkatkan risiko terjadinya penyakit liver.

Segera ke dokter jika mengalami nyeri perut yang sangat parah, terlebih jika disertai dengan munculnya penyakit kuning dan demam. Jika Anda sudah didiagnosis menderita penyakit liver, ikutilah terapi yang diberikan oleh dokter. Beberapa penyakit liver membutuhkan penanganan intensif.

Jika Anda disarankan untuk mengonsumsi obat-obatan tertentu, selalu ikuti anjuran dokter dan lakukan kontrol berkala untuk memantau kemajuan terapi dan ada tidaknya efek samping akibat penggunaan obat.

Diagnosis Penyakit Liver

Untuk mendiagnosis penyakit liver, dokter akan melakukan tanya jawab mengenai gejala yang dialami, serta riwayat kesehatan dan faktor risiko yang dimiliki pasien, seperti riwayat mengonsumsi obat-obatan sebelumnya atau jumlah alkohol yang dikonsumsi per harinya.

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, termasuk melihat perubahan warna kulit dan mata, pembengkakan di perut dan kaki, serta ada tidaknya nyeri tekan di perut.

Untuk menentukan diagnosis, dokter perlu menemukan penyebab penyakit hati serta tingkat keparahan kondisinya. Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan guna memastikan diagnosis adalah:

Tes darah

Tes darah berguna untuk mengetahui kondisi peradangan yang terjadi pada hati dan fungsi organ hati. Beberapa jenis tes darah yang dapat dilakukan adalah:

  • Pemeriksaan fungsi hati, untuk mengetahui kadar protein, albumin, dan bilirubin dalam darah, kadar enzim SGOT, SGPT, serta enzim GGT dan alkali fosfatase
  • Hitung darah lengkap, untuk memeriksa penurunan sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit
  • Pemeriksaan INR (international normalized ratio), untuk melihat fungsi pembekuan darah
  • Pemeriksaan kadar enzim lipase, untuk mendeteksi peradangan pada pankreas
  • Pemeriksaan kadar amonia, untuk menentukan apakah gangguan kesadaran terjadi akibat penumpukan ammonia yang umumnya terjadi pada gagal hati
  • Pemeriksaan serologi, untuk memeriksa dan mendeteksi apakah penyakit hati disebabkan oleh infeksi virus, seperti A, B, C, atau D

Pemeriksaan lain

Selain tes darah, dokter dapat meminta pasien untuk menjalani pemeriksaan berikut:

  • Pemindaian dengan USG, CT Scan, atau MRI, untuk mendapatkan gambaran organ hati dan organ yang ada disekitarnya secara jelas
  • Biopsi hati, untuk mendeteksi ada tidaknya kelainan jaringan
  • Tes genetik, untuk mendiagnosis kelainan genetik yang mungkin menjadi penyebab terjadinya penyakit liver

Pengobatan Penyakit Liver

Pengobatan penyakit liver tergantung pada penyebab yang mendasarinya, tingkat keparahan, dan kondisi pasien. Penyakit liver yang terdeteksi pada tahap awal dan ditangani sejak dini memiliki potensi lebih besar untuk sembuh dibandingkan yang terdeteksi dan ditangani saat tahapnya sudah lebih serius.

Secara umum, beberapa metode pengobatan penyakit liver adalah:

  • Menjalani pola hidup sehat, seperti menurunkan berat badan, berhenti minum alkohol, dan menghindari konsumsi obat-obatan tanpa saran dokter
  • Memperbanyak minum air putih, istirahat yang cukup, serta mengonsumsi makanan yang sehat, terutama untuk mengatasi hepatitis A
  • Mengonsumsi obat diuretik dan diet rendah garam, untuk menangani sirosis
  • Menjalani operasi pengangkatan kantong empedu, untuk menangani batu empedu
  • Menjalani transplantasi hati, untuk mengatasi kondisi yang telah mencapai tahap gagal hati

Komplikasi Penyakit Liver

Komplikasi yang dapat terjadi akibat penyakit liver tergantung pada penyebabnya. Beberapa penyakit dan kondisi yang bisa terjadi saat seseorang mengalami penyakit hati adalah:

  • Perdarahan
  • Infeksi
  • Kekurangan gizi atau malnutrisi
  • Berat badan menurun
  • Penurunan fungsi kognitif
  • Kanker hati

Pencegahan Penyakit Liver

Untuk mencegah penyakit liver, ada beberapa tindakan yang perlu dilakukan, yaitu:

  • Jaga berat badan ideal sesuai dengan indeks massa tubuh
  • Hindari konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.
  • Ikuti program vaksinasi hepatitis untuk mencegah infeksi hepatitis B.
  • Lakukan olahraga secara teratur.
  • Konsumsi makanan bergizi lengkap dan seimbang.
  • Cuci tangan dengan rutin setiap sebelum memasak, makan, dan setelah menggunakan toilet.
  • Jaga sanitasi yang baik dan kebersihan lingkungan sekitar.
  • Hindari berganti-ganti pasangan dalam berhubungan seksual.
  • Jangan menggunakan NAPZA.
  • Lakukan konsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat apa pun.
  • Lakukan pemeriksaan rutin ke dokter untuk memantau kesehatan liver, karena beberapa obat yang dijual bebas (seperti paracetamol) bisa menyebabkan kerusakan liver jika dikonsumsi tidak sesuai aturan pakai.
  • Hindari paparan zat kimia berbahaya, darah, atau cairan tubuh orang lain, dengan menggunakan alat pelindung diri.




Share:

Penyakit Jantung Koroner - Gejala, Penyebab & Pengobatan

Pengertian Penyakit Jantung Koroner

Penyakit jantung koroner adalah jenis penyakit jantung ketika arteri jantung tidak dapat mengalirkan cukup darah yang kaya oksigen ke jantung. Kondisi ini mempengaruhi arteri koroner yang lebih besar pada permukaan jantung. 

Masalah gangguan jantung ini dapat menimbulkan sejumlah keluhan. Mulai dari nyeri dada, sesak napas dan gejala serangan jantung. 

Selain itu, penyakit ini menjadi salah satu momok serius yang perlu kamu waspadai. Sebab, tanpa penanganan yang tepat, penyakit ini dapat menyebabkan gagal jantung.

Penyebab Penyakit Jantung Koroner

Ada banyak penyebab penyakit ini. Meski begitu, penelitian telah menunjukkan bahwa ada beberapa hal yang bisa memicunya, seperti:

  • Tekanan darah tinggi
  • Kolesterol dan trigliserida tinggi
  • Diabetes.
  • Kegemukan.
  • Kebiasaan merokok.
  • Peradangan pada pembuluh darah.

 Mereka semua merupakan faktor utama yang melukai dinding arteri, sehingga menyebabkan penyakit jantung koroner.

Saat arteri rusak, plak akan lebih mudah menempel pada arteri sehingga lambat laun menebal.

Penyempitan pembuluh kemudian akan menghambat aliran darah kaya oksigen ke jantung.

Jika plak ini pecah, trombosit akan menempel pada luka di arteri dan membentuk gumpalan darah yang memblokir arteri. Ini dapat menyebabkan angina semakin parah.

Ketika bekuan darah cukup besar, maka arteri akan tertekan yang menyebabkan infark miokard atau kematian otot jantung.

Faktor Risiko

Beberapa faktor yang dapat memengaruhi penyakit jantung koroner, meliputi:

1. Usia lanjut

Pertambahan usia menyebabkan arteri menyempit dan rapuh.

2. Berjenis kelamin pria 

Menurut jurnal ilmiah berjudul yang dipublikasikan di U.S. National Library of Medicine, pria secara keseluruhan lebih cenderung mengalami penyakit ini.

Sebab, pria dianggap kurang adaptif mengatasi peristiwa stres secara fisiologis, perilaku, dan emosional yang berkontribusi pada peningkatan risiko penyakit jantung koroner.

3. Riwayat keluarga

Apabila ada anggota keluarga yang mengidap gangguan jantung, maka risiko penyakit jantung koroner lebih meningkat.

4. Kebiasaan merokok

Nikotin dapat menyebabkan penyempitan arteri sementara karbon monoksida menyebabkan kerusakan pembuluh. 

5. Memiliki hipertensi

Memiliki riwayat tekanan darah tinggi dan/atau kadar lemak darah yang tinggi dapat memicu penyakit jantung koroner.

6. Trauma mental

Memiliki trauma mental atau stres psikologis berat jangka waktu panjang juga bisa menempatkan seseorang pada risiko penyakit jantung koroner.

Gejala Penyakit Jantung Koroner

Gejala yang timbul oleh penyakit jantung koroner, meliputi:

  • Nyeri dada atau ketidaknyamanan pada dada yang menjalar ke leher, rahang, bahu, dan tangan sisi kiri, punggung, perut sisi kiri (sering dianggap maag).
  • Keringat dingin, mual, muntah, atau mudah lelah.
  • Irama denyut jantung yang tidak stabil (aritmia), bahkan bisa menyebabkan henti jantung (sudden cardiac arrest) yang bila tidak tertangani dengan cepat dapat menyebabkan kematian.

Diagnosis Penyakit Jantung Koroner

Untuk mendiagnosis penyakit arteri koroner, dokter akan melakukan wawancara medis tentang riwayat kesehatan dan gejala yang timbul.

Tes darah biasanya juga akan dokter lakukan untuk memeriksa kesehatan secara keseluruhan. 

Selain itu, dokter juga akan melakukan tes penunjang seperti: 

1. Elektrokardiogram (EKG)

Tes ini bekerja dengan mengukur aktivitas listrik jantung. Tujuannya untuk menunjukkan seberapa cepat atau lambat jantung berdetak.

Pemeriksaan EKG juga bermanfaat untuk mendiagnosis kondisi lainnya. 

2. Ekokardiogram

Tes ini menggunakan gelombang suara untuk membuat gambar jantung yang berdetak. 

Ekokardiogram dapat menunjukkan bagaimana darah bergerak melalui jantung dan katup jantung.

3. Tes stres latihan

Jika tanda dan gejala paling sering muncul selama berolahraga, dokter juga mungkin meminta pengidap penyakit jantung koroner untuk berjalan pada treadmill atau mengendarai sepeda statis selama EKG. 

4. CT scan jantung

CT scan jantung dapat mendeteksi endapan kalsium yang dapat mempersempit arteri dan penyumbatan dalam arteri jantung. 

5. Kateterisasi jantung dan angiogram

Selama kateterisasi jantung, dokter akan memasukkan tabung fleksibel (kateter) ke dalam pembuluh darah. Biasanya pada pergelangan tangan atau selangkangan. 

Pengobatan Penyakit Jantung Koroner

Beberapa obat dapat dokter rekomendasikan untuk mengatasi penyakit jantung koroner, meliputi:

  • Obat-obatan penurun kolesterol. Penggunaan obat untuk mengatasi penyakit jantung koroner termasuk statin, niasin, dan fibrat. Obat-obatan ini membantu mengurangi kadar kolesterol darah, sehingga mengurangi jumlah lemak yang menempel pada pembuluh.

  • Aspirin. Obat ini atau pengencer darah lainnya membantu untuk melarutkan darah yang tersumbat, dan mencegah risiko stroke atau infark miokard. Namun dalam beberapa kasus, aspirin mungkin bukan pilihan yang baik. Beritahu dokter jika keluarga atau kerabat mengidap gangguan pembekuan darah.
  • Beta blockers. Obat ini menurunkan tekanan darah dan mencegah risiko infark miokard.
  • Nitrogliserin dan inhibitor enzim yang mengubah angiotensin. Obat ini dapat membantu mencegah risiko infark miokard.
  • Operasi. Pemasangan stent untuk memperlebar arteri koroner yang menyempit ataupun bedah koroner seperti operasi bypass jantung adalah pengobatan yang paling umum untuk penyakit jantung koroner. Dokter juga dapat melakukan angioplasty bila pengidap memerlukannnya.

Apakah Penyakit Jantung Koroner Bisa Sembuh Total?

Banyak orang mempertanyakan apakah kondisi ini bisa sembuh total atau tidak. Jawabannya, penyakit jantung koroner tidak dapat sembuh total.

Akan tetapi, pengobatan dapat membantu mengelola gejala dan mengurangi kemungkinan masalah seperti serangan jantung. 

Karena itu, penting bagi pengidapnya untuk benar-benar menjalani pengobatan sesuai dengan arahan dokter.

Pencegahan Penyakit Jantung Koroner

Beberapa tips berguna untuk mencegah penyakit jantung koroner:

1. Pola makan sehat

Sebaiknya hindari makanan yang pengolahannya dengan cara digoreng dan pilihlah makanan yang ditumis, direbus, ataupun dikukus.

Jika harus mengolah makanan dengan cara menggoreng, sebaiknya gunakan minyak zaitun daripada minyak goreng.

Sebab minyak zaitun memiliki kandungan lemak yang rendah. Hindari juga makanan yang mengandung kolesterol dan lemak tinggi,  misalnya seafood.

Sebab, kandungan kolesterol tinggi di dalamnya dapat membahayakan jantung. 

Pilih produk makanan sehat yang rendah lemak atau bahkan tanpa lemak. Konsumsi susu, keju, ataupun mentega yang rendah lemak.

Selain lemak, hindari juga makanan yang mengandung gula yang tinggi, misalnya soft drink

2. Berhenti merokok

Siapapun tahu bahwa rokok berdampak negatif untuk kesehatan jantung, karena itu, hentikan kebiasaan merokok segera agar jantung tetap sehat.

3. Hindari stres

Saat stres, otak memerintah tubuh mengeluarkan hormon kortisol untuk mengatasinya. 

Namun, jika hormon ini tubuh produksi berlebihan dapat menyebabkan pembuluh darah menjadi kaku.

Baca lebih lanjut mengenai cara untuk mengelola stres pada artikel: Ini Cara Menghilangkan Stres yang Mudah dan Ampuh

4. Hindari kemungkinan hipertensi

Tekanan darah tinggi juga dapat menjadi penyebab penyakit jantung.

Sebab tekanan darah yang berlebihan dapat melukai dinding arteri dan memungkinkan kolesterol LDL memasuki arteri dan berakibat pada meningkatnya timbunan plak.

5. Pertahankan berat badan sehat

Jaga pola makan agar tidak berlebihan, sehingga terhindar dari kegemukan.

Seseorang dengan lingkar pinggang lebih dari 80 sentimeter memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena serangan jantung koroner.

Selain itu, obesitas atau kelebihan berat badan dapat meningkatkan resiko terkena tekanan darah tinggi dan penyakit gula. 

6. Olahraga teratur

Lakukan olahraga kardio, seperti jogging, berjalan kaki, renang, ataupun bersepeda.

Jenis olahraga tersebut dapat menguatkan kerja otot jantung dan melancarkan peredaran darah ke seluruh tubuh.

7. Konsumsi antioksidan

Radikal bebas yang berasal dari polusi udara, asap rokok, dan asap kendaraan bermotor dapat menyebabkan endapan pada pembuluh darah yang mengakibatkan penyumbatan. 

Untuk mengantisipasinya, pastikan untuk mengonsumsi makanan kaya antioksidan. Sebab, antioksidan dapat membantu membasmi radikal bebas dalam tubuh. 

Komplikasi Penyakit Jantung Koroner

Ada beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat penyakit jantung koroner, yaitu:

1. Gagal jantung

Gagal jantung berarti jantung tidak mampu memompa cukup darah ke seluruh tubuh.

Hal ini dapat menyebabkan penumpukan cairan dalam paru-paru, kesulitan bernapas, dan pembengkakan pada kaki, hati, atau perut.

2. Detak jantung tidak normal

Detak jantung yang tidak normal atau aritmia.

Ketika seseorang beristirahat, jantung biasanya berdetak sekitar 60 hingga 80 kali per menit dalam ritme yang dapat diprediksi, stabil, dan dengan kekuatan yang konsisten. 

Aritmia dapat terjadi pada pengidap penyakit jantung koroner dengan kondisi:

  • Bradikardia, detak jantung yang lambat.
  • Takikardia, detak jantung yang cepat.
  • Fibrilasi atrium, ritme yang kacau dan tidak teratur pada ruang atas jantung (atrium).

Fibrilasi atrium, menyebabkan jantung menjadi tidak efektif dalam memompa darah keluar dari atrium ke ruang bawah jantung (ventrikel) dan ke bagian lain dari tubuh untuk sirkulasi. 

Seiring waktu, fibrilasi atrium dapat menyebabkan stroke iskemik atau gagal jantung.

3. Nyeri dada

Berkurangnya aliran darah pada arteri koroner dapat berarti jantung tidak menerima cukup darah. Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri dada atau angina.

Angina dapat memberikan sensasi berat, tekanan, rasa sakit, sensasi terbakar, tindihan yang menyebar ke rahang, leher, lengan, dan bahu.

4. Serangan jantung

Plak lemak pada salah satu arteri koroner yang pecah dapat menyebabkan pembentukan gumpalan darah.

Ini bisa menghalangi dan mengurangi aliran darah yang jantung butuhkan. Akibatnya, terjadilah serangan jantung. 

5. Kematian mendadak

Jika aliran darah arteri koroner ke jantung tersumbat parah dan tidak pulih total, ini dapat menyebabkan kematian mendadak.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika keluarga atau kerabat mengalami satupun tanda atau gejala dari penyakit jantung koroner, segeralah memeriksakan kondisi ke dokter.

Penanganan sedari awal tentunya dapat meminimalkan risiko komplikasi fatal yang mengintai.

Referensi:
National Library of Medicine. Diakses pada 2023. Why do men get more heart disease than women? An international perspective.
Healthline. Diakses pada 2023. Coronary Artery Disease (CAD) Complications. 
U.S. National Heart, Lung, and Blood Institute. Diakses pada 2023. What Is Coronary Heart Disease?
Mayo Clinic. Diakses pada 2023. Coronary artery disease. 
NHS. Diakses pada 2023. Coronary heart disease. 

Source: https://www.halodoc.com/kesehatan/penyakit-jantung-koroner dengan pengubahan seperlunya

Share:

Whatsapp kami

Promosi RSMH

Promosi RSMH

Owner web

Web ini dikelola oleh pemilik sendiri tanpa ada bantuan dari pihak utama RSUP Dr Mohammad Hoesin Paelmbang.
Nama: Muhammad Rayhan Naufal Putra
Aplikasi pembuat web: www.blogger.com
Alamat: Jl. Perindustrian 1, komp. SPP III blok AI-24

Jika ada kendala terkait web ini silahkan hubungi di 085381813584.